If Wishes Could Kill (Hangul: 기리고; RR: Girigo) adalah serial televisi asal Korea Selatan bergenre remaja, horor, supranatural, dan misteri yang ditulis oleh Park Joong-seop serta disutradarai oleh Park Youn-seo. Serial ini dibintangi oleh Jeon So-young, Kang Mi-na, Baek Sun-ho, Hyun Woo-seok, dan Lee Hyo-je. Drama berbahasa Korea ini memiliki total 8 episode.
Di sela-sela rutinitas kerja sebagai tenaga pengajar, film ini berhasil saya tuntaskan melalui cara menyicil. Satu episode ke episode selanjutnya. Tidak sampai puluhan episode. Cuman delapan bagian dengan alur yang terus mengikat satu sama lain, terutama melalui latar belakang tokoh-tokoh di dalamnya. Menurut saya film ini cocok bagi penikmat film yang tidak memiliki banyak waktu, tapi tetap menginginkan jalan cerita panjang, dan mengharapkan ending dapat diketahui tidak dalam waktu lama.
Ini spoiler saja: film ini mengedepankan horor, praktik okultisme, fenomena bullying di sekolah, dan teknologi IT. Agak berlebihan jika menyebut If Wishes Could Kill (2026) sebagai film horor, barangkali. Terutama jika standar horor menggunakan kriteria seperti pendekatan film-film yang diproduksi di Indonesia.
Tapi, bagi saya yang penakut, film ini berhasil membuat saya perlu menutup mata untuk menghadapi adegan-adegan yang mengundang kecemasan dan ketakutan. Terutama peralihan scene menggunakan teknik jump-scare yang menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur. Dan itu betul, ada beberapa adegan menggunakan efek kejutan memecah keheningan sehingga membuat saya berteriak seperti anak-anak—sesuatu hal yang lucu bagi orang dewasa. Meskipun demikian film ini memberikan takaran horor yang pas. Tidak berlebihan. Konsep mengenai hantu dalam film ini melibatkan unsur-unsur alam bawah sadar yang memberikan pengertian berbeda mengenai ketakutan.
Pendekatan visual hantu yang digunakan tidak membutuhkan banyak unsur-unsur menakutkan dari segi makeup. Justru cenderung realistis mendasarkan kepada latar belakang film ini yang mengambil setting dunia sekolah.
Dimensi ruang dan waktu, yang menjadi eksistensi hantu dapat dicandrai juga menarik dipertimbangkan. Permainan dimensi ruang dan waktu membuat kita bertanya-tanya, apakah hantu merupakan rekayasa pikiran kita sendiri atau eksistensi ril seperti kenyataan benda-benda yang berada di sekitar kita? Jika tidak ada, lalu dari mana sumber ketakutan yang kita rasakan? Apakah juga merupakan hasil tipu daya pikiran sendiri, atau ketakutan itu sendiri sebenarnya tidak ada karena berasal dari hantu yang tidak ada pula?
Permainan epistemologi ini jika terus dipertanyakan kemungkinan akan membuat Anda mendekati cara berpikir filsuf, terutama menjadi seperti Rene Descartes. Atau bisa jadi menyerupai Al Ghazali yang bakal menegasi dirinya sendiri sebagai sebuah kenyataan itu sendiri. Duh, so-called philosophy tulisan ini jadinya!
Menyangkut bullying, film ini lebih daripada sekadar hanya untuk menjawab kebutuhan seni seorang penulis skenario, atau sutradara, melainkan merupakan medium mengenai fakta-fakta yang terjadi di Korea Selatan. Korea Selatan menjadi negara yang cukup mengkhawatirkan bagi anak-anak sekolah.
Mengutip Kompas, survei dari Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi setempat membuktikan 1 dari 10 siswa di sekolah dasar dan menengah Negeri Gingseng menderita berbagai bentuk kekerasan dari teman sebayanya pada 2012. Ini data sepuluh tahun belakang, dan jumlah kasus perundungan di sekolah di Korea terus meningkat sejak tahun 2013.
Pada tahun 2013, dilaporkan 11.749 kasus dan data dari tahun 2019 menunjukkan jumlahnya lebih dari dua kali lipat dengan dilaporkan 31.130 kasus. Dalam empat tahun terakhir, 50% dari yang dilaporkan adalah kekerasan fisik tetapi seiring berjalannya waktu, kasus-kasus kekerasan verbal, penahanan, pemaksaan, dan kekerasan seksual juga semakin meningkat. Kekerasan verbal, telah meningkat tajam dari 3.208 pada tahun 2016 menjadi 8.471 kasus pada tahun 2018. Selain itu, pemaksaan juga mengalami peningkatan dari 100 kasus pada tahun 2018, menjadi 2.202 pada tahun 2019.
Tidak saja di Korea Selatan—sebagai perbandingan, di Indonesia sendiri juga tidak kalah hebatnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan data yang perlu diperhatikam, bahwa kurun waktu 9 tahun terakhir, antara 2011 sampai 2019, terdapat 37.381 kasus pengaduan kekerasan terhadap anak. Terkait Bullying baik yang terjadi di lingkungan sekolah maupun sosial media, angkanya mencapai 2.473 laporan. Dari laporan yang sama, KPAI mencatat tren kekerasan terhadap anak terus meningkat.
UNICEF, lembaga internasional yang konsern kepada masalah pendidikan menjelaskan, 2 dari 3 anak-anak di Indonesia berusia 13-17 tahun pernah mengalami setidaknya satu jenis kekerasan selama hidupnya. Menariknya, dari 2-4 anak-anak atau remaja, menurut laporan UNICEF, yang mengalami kasus kekerasan melaporkan bahwa pelakunya adalah teman sebaya. Data-data ini semakin menunjukkan bahwa bullying merupakan masalah serius yang menjadikan anak-anak sebagai korban paling berpeluang mengalami kekerasan di lingkungan sekolahnya.
Bullying merupakan perilaku tidak hanya menyakiti korban secara fisik dan emosional, tetapi juga dapat meninggalkan trauma jangka panjang dan menghambat perkembangan sosial dan akademik anak-anak. Dari sudut pandang sosiologi, bullying merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti norma sosial, struktur kekuasaan, dan budaya sekolah.
Norma sosial menjadi salah satu sebab tidak langsung mengapa bullying sulit dientaskan dari lingkungan sekolah. Seringkali budaya permissif yang menoleransi kekerasan, agresivitas, dan dominasi dapat menciptakan lingkungan yang mendorong seseorang dapat menjadi pelaku bullying. Dalam hal ini budaya maskulinitas menjadi pengaruh yang menekankan pada kekuatan dan agresivitas berkontribusi terhadap perilaku bullying.
If Wishes Could Kill menurut saya merupakan film drama remaja yang memberikan suatu pengertian mengenai dendam kesumat akibat bullying dapat diwarisi ke pihak lain. Dengan pendekatan waktu maju mundur, kekerasan seperti bullying dapat dilihat sebagai produk sejarah yang cukup berbahaya jika tidak segera ditangani. Dari satu murid ke murid lain, dari satu generasi ke generasi lain.
Begitulah awal kisahnya, film ini bermula dari kekompakan lima orang remaja SMA Seorin yang menjalin persahabatan sejak masa sekolah dasar. Lalu persahabatan ini mulai menghadapi permasalahan serius setelah Choi Hyeong-wook (Lee Hyo-je ) bunuh diri menggorok lehernya sendiri saat mereka sedang menerima pelajaran di dalam kelas. Usut punya usut Hyeong-wook terikat kepada kutukan sebuah aplikasi pengabul permintaan yang meminta tumbal nyawa si pemakainya: Girigo. Aplikasi Girigo merupakan perangkat lunak yang dihasilkan dari sumpah balas dendam penciptanya dan praktik perdukunan sehingga menjadi aplikasi yang meneror penggunanya.
Dan, di balik penggunaan menyimpang Girigo dipicu oleh bullying antara dua remaja perempuan yang pecah kongsi persahabatan.
Saya membutuhkan dua kali percobaan untuk meyakinkan minat saya terhadap film ini. Kali pertama menonton bagian awal belum ada ketertarikan mengenai apa sebenarnya makna judul film ini.
Kisah bagian awal menceritakan dua anak remaja yang janjian berangkat ke sekolah karena tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama. Mereka sering bertemu di lift yang sama, dan di jam yang sama. Tepat di bagian inilah saya memutuskan keluar memilih tidak melanjutkan film ini. Baru setelah menghabiskan Uang Passolo (2026)—film berlatar tradisi Bugis Makassar, yang menurut saya masih banyak kekurangan dari segi kekuatan cerita, plot, dan kemampuan akting—untuk kali kedua memutuskan menonton kembali film yang didukung Jeon So-nee (Haetsal) ini.
Percobaan kali kedua juga merupakan pertarungan tersendiri, apakah terus melanjutkan menonton film ini dengan risiko membosankan, atau memilih bersabar sampai menemukan premis menarik atas film ini. Lalu mulailah terbentuk kerangka premis film ini berlahan-lahan, terutama pada episode satu dan dua. Dua episode awal inilah kuncinya, ternyata. Hanya butuh kesabaran untuk dapat menikmati film dengan jalinan film yang mengkombinasikan kisah persahatabatan remaja, horor, dan thriller ini.
Adegan pamungkas dari film ini mengesankan bakal ada keberlanjutan season ke-2, trend serial Korea Selatan apalagi jika mengalami kesuksesan di pasaran.