Bahrul Amsal, 10 Mei 2026
Sutradara: Todd Phillips; Produser: Todd Phillips, Bradley Cooper, Emma Tillinger Koskoff; Penulis: Todd Phillips dan Scott Silver; Berdasarkan: Joker oleh DC Comics; Pemeran: Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy; Penata Musik: Hildur Guðnadóttir; Sinematografer: Lawrence Sher; Penyunting: Jeff Groth; Perusahaan Produksi: DC Films, Village Roadshow Pictures, Bron Studios, Joint Effort; Distributor: Warner Bros. Pictures; Tanggal Rilis: 31 Agustus 2019 (Venice Film Festival), 2 Oktober 2019 (Indonesia), 4 Oktober 2019 (Amerika Serikat); Durasi: 122 menit.
DALAM salah satu adegan Joker (2019) warga kota Gotham menyeruak ke jalan-jalan menyampaikan protes, kekesalan, kemarahan, dan kekecewaan kepada kota yang tidak dapat lagi diandalkan. Mereka menyatakan kota Gotham tidak seperti ekspektasi yang menyatakan diri sebagai kota idaman.
Alih-alih dapat hidup aman, kota Gotham menjadi pemukiman dengan kredit serba minus; kriminalitas tinggi, kesenjangan sosial akut, pengangguran, dan transportasi publik yang buruk. Di saat malam hari, Gotham menjadi kota mencekam dan berbahaya. Pemerintahan yang digerogoti korupsi memperparah eksistensi Gotham. Singkatnya, Gotham menjadi kota gagal.
Krisis kepercayaan publik ini dinyatakan melalui aksi massa menggunakan topeng badut. Badut merupakan representasi olok-olok berkaitan dengan pengelolaan kota yang amburadul. Memang belakangan kota Gotham menghadapi teror pembunuhan dengan karakter badut yang telah membunuh tiga orang pelajar di jalur kereta api bawah tanah.
Bagi anda yang mengetahui latar belakang kota Gotham, tidak asing lagi dengan kota fiktif dalam semesta Comic DC ini. Ya, di sinilah hidup superhero bernama Batman, sekaligus sosok miliarder Bruce Wayne yang dikenal flamboyan dan menjadi orang penting Gotham. Dalam semesta Comic DC, Gotham diinspirasi dari kehidupan malam kota New York dan Chicago, yang terkenal sebagai kota metropolis yang padat dan rentan.
Tapi, ini bukan kisah Batman, superhero yang mengandalkan kekayaan untuk menciptakan teknologi persenjataan bersama markasnya di bawah gua. Atau Bruce Wayne yang terlahir sebagai anak sultan. Ini kisah Joker, villain Batman yang ikonik, musuh bebuyutan Batman paling sulit dikalahkan.
Joker merupakan kisah muram. Transformasi yang melibatkan lompatan-lompatan psikis Arthur Fleck yang berubah menjadi badut pembunuh berdarah dingin. Kisah Joker adalah cerita orang pinggiran, kesepian, tak berdaya, korban buli, dan tidak dianggap, yang sekaligus pengidap mental illnes. Perubahan karakter Arthur menjadi Joker karena itu bukan tanpa sebab historis. Struktur kejiwaannya yang rentan akhirnya menjadi korban telak sehingga memilih jalan hidup ektrem karena masyarakat yang kehilangan empati.
Joker bukan sekadar film belaka, tapi mengeksplisitkan betapa berbahayanya masyarakat yang permisif melakukan tindakan bullying. Menurut data-data, bullying merupakan tindakan yang dapat memicu kerentanan psikis masyarakat. Di Amerika, menurut survei Pew Research Center, anak-anak dan remaja paling rentan mengalami bullying yang melibatkan institusi seperti sekolah. Hampir sekitar setengah dari remaja AS (53%) mengatakan bahwa pelecehan dan perundungan daring merupakan masalah besar bagi orang seusia mereka. Hal ini memicu kekhawatiran orangtua ketika anak-anaknya berada di sekolah. Sementara di Indonesia menurut KPAI menunjukkan 3.800 kasus perundungan sepanjang 2023. Pada awal 2024, tercatat 141 kasus perundungan, dengan 35% terjadi di lingkungan sekolah. Angka ini mencakup fisik, mental, dan cyberbullying. Gambaran data-data seperti ini lebih dari cukup menjelaskan bagaimana kondisi perkembangan kejiwaan Arthur Fleck, yang diceritakan mengalami bullying bahkan di ranah keluarganya sendiri.
Sebagai pribadi kesepian tanpa ayah, Arthur hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan. (Melalui teori atheisme, pribadi anak dibesarkan tanpa ayah akan hidup tanpa pegangan. Ia mudah rapuh dan terbawa situasi. Hilangnya pegangan hidup akan membuat si anak tidak akan mudah percaya kepada anjuran moral apa pun).
Hubungan dua manusia ini selama dalam film dinyatakan dalam keadaan normal. Tidak sama sekali terbayangkan, melalui kebaktian seorang anak merawat ibunya bakal melahirkan seorang kriminil berbahaya. Walaupun demikian, Todd Philps, sutradara film ini, menyimpan satu kata kunci menjelaskan apa sebenarnya terjadi dalam keluarga kecil Arthur.
Lubang kunci itu adalah panggilan ”Happy” untuk Arthur. Nampaknya, ”Happy” adalah panggilan konstitutif bagi keluarga Arthur. Mereka tak pernah sama sekali bahagia. Panggilan ”Happy” Arthur hanyalah kanal saluran atas kelamnya sejarah hidup ibu Arthur.
Athur bukanlah anak diinginkan. Ia anak pungut. Itulah sebab dari kecil ia mendapatkan perlakuan buruk ibunya. Ini melatarbelakangi penyakit mental Arthur yang dibawanya dari kecil.
Di beberapa adegan sering terlihat Arthur membawa jurnal harian. Kesuraman inti cerita buku hariannya ini. Banyak catatan hariannya tidak sama sekali membantu penyembuhan penyakit mentalnya. Masalah semakin runyam ketika psikiater tempatnya berkonsultasi menyatakan akan tutup akibat pemotongan anggaran dari pemerintah.
Bagi seorang psikolog atau psikiater, jurnal harian Athur menjadi pintu masuk dalam mengenali pengalaman historis yang membentuk kontruksi kejiwaannya. Simpton, kecenderungan, atau triger psikis yang memicu mental illnes dapat ditelusuri melalui ini. Lebih jauh, buku catatan penderita berkelainan mental dapat menentukan perkembangan dan pendekatan intervensi apa yang layak bagi si penderita. Ia ibarat catatan medis bagi dunia kedokteran.
Tapi, ketika Arthur bertranformasi menjadi Joker, jurnal hariannya menjadi inspirasi kejahatan. Catatan hariannya itu menjadi literasi titik balik ego Arthur Fleck. Dalam istilah Joker, melalui catatannya, ia mengubah tragedi kemanusiaan menjadi komedi.
Keluarga cacat kasih sayang, karut marut norma masyarakat, tidak diterima di dunia kerja, serta latar belakang penyakit mentalnya, sudah lebih dari cukup bagi Arthur mentransformasikan benak dan perasaannya menjadi antitesa semua idealitas normatif dambaan masyarakat Gotham.
Badut adalah wajah sekaligus kepribadian sosial yang lebih mudah bagi diri Arthur. Arthur bukanlah siapa-siapa tanpa kostum badutnya. Ia pribadi lemah dan dilemahkan. Sementara Joker identitas baru melampaui inferioritas watak Arthur yang simpatik dan pengasih.
Dengan kata lain, Joker merupakan pribadi mewakili kegoncangan benak dan jiwa terdalam Arthur. Joker adalah pintu sosialisasi Arthur menyatakan gagasan dan benaknya.
Ia adalah produk masyarakat kota Gotham sendiri. Ia hasil internalisasi dan kristalisasi Arthur dari kegagalan harapannya, keinginannya, perasaannya, dan cita-citanya di hadapan sistem. Yang semua itu di luar kendali dirinya menghendaki empati dari orang-orang di sekitarnya.
Jika mengacu kepada teori bunuh diri sosiolog Prancis, Emile Durkheim, pilihan logis Arthur setelah melalui kehidupan kelam adalah bunuh diri—beberapa adegan menunjukkan gelagat ini. Tapi. Arthur ”melampaui” pilihan ini. Ia beralih dari pribadi kalah menjadi optimis, walaupun rasa optimis yang liyan dan ganjil.
Itulah sebab, Joker merupakan watak berbahaya. Kejahatannya tanpa motif. Delusional, tanpa perasaan, dan tanpa rasa kasihan.
Seluruh tayangan Joker berpijak dari kekacauan. Gotham bukanlah kota idaman. Di tataran makro, Joker menceritakan kegagalan sistem sosial yang berpijak dari individualisme moral. Menjadi ruang sosial yang kehilangan orientasi sehingga disorganisasi. Kota Gotham demikian telanjang menyampaikan hilangnya panduan moral masyarakat yang berakibat kematian sistem masyarakat itu sendiri. Masyarakat Gotham tampak hidup dalam keterasingan, minim solidaritas, dan kehilangan rasa percaya terhadap institusi sosial maupun pemerintah. Situasi tersebut melahirkan frustrasi kolektif yang kemudian berkembang menjadi kemarahan sosial.
Di tengah kebrutalan itulah sosok Joker menemukan momentum kelahiran. Bagai seorang anak, ia lahir dari rahim anomie dan patologi masyarakat. Ini sekaligus menandai kekacauan di tingkat mikro seperti kehancuran psikis Arthur.
Dari kacamata ini, tidak heran Joker adalah pribadi tanpa emosi dan kognisi yang baik. Dua fakultas ini telah malfungsi. Ia tertawa tapi menangis, atau menangis dengan tertawa.
Nilai kemanusiaan Joker tidak lagi relevan. Ia melihat jauh di keramaian publik, tapi di sana tidak ada harapan dan pegangan. Ia melihat ke jantung jiwanya, lebih dahsyat lagi, di sana kosong melompong setelah dihempas masyarakatnya.
Lalu nilai apa yang relevan bagi Joker? Mungkin nihilisme!
Joker setidaknya memunculkan dua kesimpulan. Pertama, kota yang salah urus akan menciptakan ”pribadi” masyarakat beringas. Kedua, di saat bersamaan, entah bagaimana prosesnya, ketidakadilan bertemu dengan pribadi seperti sejarah Arthur Fleck, akan melahirkan pribadi bengis, culas, dan intoleran.
Alih-alih dapat hidup aman, kota Gotham menjadi pemukiman dengan kredit serba minus; kriminalitas tinggi, kesenjangan sosial akut, pengangguran, dan transportasi publik yang buruk. Di saat malam hari, Gotham menjadi kota mencekam dan berbahaya. Pemerintahan yang digerogoti korupsi memperparah eksistensi Gotham. Singkatnya, Gotham menjadi kota gagal.
Krisis kepercayaan publik ini dinyatakan melalui aksi massa menggunakan topeng badut. Badut merupakan representasi olok-olok berkaitan dengan pengelolaan kota yang amburadul. Memang belakangan kota Gotham menghadapi teror pembunuhan dengan karakter badut yang telah membunuh tiga orang pelajar di jalur kereta api bawah tanah.
Bagi anda yang mengetahui latar belakang kota Gotham, tidak asing lagi dengan kota fiktif dalam semesta Comic DC ini. Ya, di sinilah hidup superhero bernama Batman, sekaligus sosok miliarder Bruce Wayne yang dikenal flamboyan dan menjadi orang penting Gotham. Dalam semesta Comic DC, Gotham diinspirasi dari kehidupan malam kota New York dan Chicago, yang terkenal sebagai kota metropolis yang padat dan rentan.
Tapi, ini bukan kisah Batman, superhero yang mengandalkan kekayaan untuk menciptakan teknologi persenjataan bersama markasnya di bawah gua. Atau Bruce Wayne yang terlahir sebagai anak sultan. Ini kisah Joker, villain Batman yang ikonik, musuh bebuyutan Batman paling sulit dikalahkan.
Joker merupakan kisah muram. Transformasi yang melibatkan lompatan-lompatan psikis Arthur Fleck yang berubah menjadi badut pembunuh berdarah dingin. Kisah Joker adalah cerita orang pinggiran, kesepian, tak berdaya, korban buli, dan tidak dianggap, yang sekaligus pengidap mental illnes. Perubahan karakter Arthur menjadi Joker karena itu bukan tanpa sebab historis. Struktur kejiwaannya yang rentan akhirnya menjadi korban telak sehingga memilih jalan hidup ektrem karena masyarakat yang kehilangan empati.
Joker bukan sekadar film belaka, tapi mengeksplisitkan betapa berbahayanya masyarakat yang permisif melakukan tindakan bullying. Menurut data-data, bullying merupakan tindakan yang dapat memicu kerentanan psikis masyarakat. Di Amerika, menurut survei Pew Research Center, anak-anak dan remaja paling rentan mengalami bullying yang melibatkan institusi seperti sekolah. Hampir sekitar setengah dari remaja AS (53%) mengatakan bahwa pelecehan dan perundungan daring merupakan masalah besar bagi orang seusia mereka. Hal ini memicu kekhawatiran orangtua ketika anak-anaknya berada di sekolah. Sementara di Indonesia menurut KPAI menunjukkan 3.800 kasus perundungan sepanjang 2023. Pada awal 2024, tercatat 141 kasus perundungan, dengan 35% terjadi di lingkungan sekolah. Angka ini mencakup fisik, mental, dan cyberbullying. Gambaran data-data seperti ini lebih dari cukup menjelaskan bagaimana kondisi perkembangan kejiwaan Arthur Fleck, yang diceritakan mengalami bullying bahkan di ranah keluarganya sendiri.
Sebagai pribadi kesepian tanpa ayah, Arthur hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan. (Melalui teori atheisme, pribadi anak dibesarkan tanpa ayah akan hidup tanpa pegangan. Ia mudah rapuh dan terbawa situasi. Hilangnya pegangan hidup akan membuat si anak tidak akan mudah percaya kepada anjuran moral apa pun).
Hubungan dua manusia ini selama dalam film dinyatakan dalam keadaan normal. Tidak sama sekali terbayangkan, melalui kebaktian seorang anak merawat ibunya bakal melahirkan seorang kriminil berbahaya. Walaupun demikian, Todd Philps, sutradara film ini, menyimpan satu kata kunci menjelaskan apa sebenarnya terjadi dalam keluarga kecil Arthur.
Lubang kunci itu adalah panggilan ”Happy” untuk Arthur. Nampaknya, ”Happy” adalah panggilan konstitutif bagi keluarga Arthur. Mereka tak pernah sama sekali bahagia. Panggilan ”Happy” Arthur hanyalah kanal saluran atas kelamnya sejarah hidup ibu Arthur.
Athur bukanlah anak diinginkan. Ia anak pungut. Itulah sebab dari kecil ia mendapatkan perlakuan buruk ibunya. Ini melatarbelakangi penyakit mental Arthur yang dibawanya dari kecil.
Di beberapa adegan sering terlihat Arthur membawa jurnal harian. Kesuraman inti cerita buku hariannya ini. Banyak catatan hariannya tidak sama sekali membantu penyembuhan penyakit mentalnya. Masalah semakin runyam ketika psikiater tempatnya berkonsultasi menyatakan akan tutup akibat pemotongan anggaran dari pemerintah.
Bagi seorang psikolog atau psikiater, jurnal harian Athur menjadi pintu masuk dalam mengenali pengalaman historis yang membentuk kontruksi kejiwaannya. Simpton, kecenderungan, atau triger psikis yang memicu mental illnes dapat ditelusuri melalui ini. Lebih jauh, buku catatan penderita berkelainan mental dapat menentukan perkembangan dan pendekatan intervensi apa yang layak bagi si penderita. Ia ibarat catatan medis bagi dunia kedokteran.
Tapi, ketika Arthur bertranformasi menjadi Joker, jurnal hariannya menjadi inspirasi kejahatan. Catatan hariannya itu menjadi literasi titik balik ego Arthur Fleck. Dalam istilah Joker, melalui catatannya, ia mengubah tragedi kemanusiaan menjadi komedi.
Keluarga cacat kasih sayang, karut marut norma masyarakat, tidak diterima di dunia kerja, serta latar belakang penyakit mentalnya, sudah lebih dari cukup bagi Arthur mentransformasikan benak dan perasaannya menjadi antitesa semua idealitas normatif dambaan masyarakat Gotham.
Badut adalah wajah sekaligus kepribadian sosial yang lebih mudah bagi diri Arthur. Arthur bukanlah siapa-siapa tanpa kostum badutnya. Ia pribadi lemah dan dilemahkan. Sementara Joker identitas baru melampaui inferioritas watak Arthur yang simpatik dan pengasih.
Dengan kata lain, Joker merupakan pribadi mewakili kegoncangan benak dan jiwa terdalam Arthur. Joker adalah pintu sosialisasi Arthur menyatakan gagasan dan benaknya.
Ia adalah produk masyarakat kota Gotham sendiri. Ia hasil internalisasi dan kristalisasi Arthur dari kegagalan harapannya, keinginannya, perasaannya, dan cita-citanya di hadapan sistem. Yang semua itu di luar kendali dirinya menghendaki empati dari orang-orang di sekitarnya.
Jika mengacu kepada teori bunuh diri sosiolog Prancis, Emile Durkheim, pilihan logis Arthur setelah melalui kehidupan kelam adalah bunuh diri—beberapa adegan menunjukkan gelagat ini. Tapi. Arthur ”melampaui” pilihan ini. Ia beralih dari pribadi kalah menjadi optimis, walaupun rasa optimis yang liyan dan ganjil.
Itulah sebab, Joker merupakan watak berbahaya. Kejahatannya tanpa motif. Delusional, tanpa perasaan, dan tanpa rasa kasihan.
Seluruh tayangan Joker berpijak dari kekacauan. Gotham bukanlah kota idaman. Di tataran makro, Joker menceritakan kegagalan sistem sosial yang berpijak dari individualisme moral. Menjadi ruang sosial yang kehilangan orientasi sehingga disorganisasi. Kota Gotham demikian telanjang menyampaikan hilangnya panduan moral masyarakat yang berakibat kematian sistem masyarakat itu sendiri. Masyarakat Gotham tampak hidup dalam keterasingan, minim solidaritas, dan kehilangan rasa percaya terhadap institusi sosial maupun pemerintah. Situasi tersebut melahirkan frustrasi kolektif yang kemudian berkembang menjadi kemarahan sosial.
Di tengah kebrutalan itulah sosok Joker menemukan momentum kelahiran. Bagai seorang anak, ia lahir dari rahim anomie dan patologi masyarakat. Ini sekaligus menandai kekacauan di tingkat mikro seperti kehancuran psikis Arthur.
Dari kacamata ini, tidak heran Joker adalah pribadi tanpa emosi dan kognisi yang baik. Dua fakultas ini telah malfungsi. Ia tertawa tapi menangis, atau menangis dengan tertawa.
Nilai kemanusiaan Joker tidak lagi relevan. Ia melihat jauh di keramaian publik, tapi di sana tidak ada harapan dan pegangan. Ia melihat ke jantung jiwanya, lebih dahsyat lagi, di sana kosong melompong setelah dihempas masyarakatnya.
Lalu nilai apa yang relevan bagi Joker? Mungkin nihilisme!
Joker setidaknya memunculkan dua kesimpulan. Pertama, kota yang salah urus akan menciptakan ”pribadi” masyarakat beringas. Kedua, di saat bersamaan, entah bagaimana prosesnya, ketidakadilan bertemu dengan pribadi seperti sejarah Arthur Fleck, akan melahirkan pribadi bengis, culas, dan intoleran.
(2019-2026)