Sutradara: Tom Shadyac; Produser: Mike Farrell, Barry Kemp, Marvin Minoff, Charles Newirth, Marsha Garces Williams; Skenario: Steve Oedekerk; Berdasarkan:Gesundheit: Good Health Is a Laughing Matter(Patch Adams & Maureen Mylander); Pemeran: Robin Williams, Monica Potter, Philip Seymour Hoffman, Bob Gunton, Daniel London, Peter Coyote; Musik: Marc Shaiman; Sinematografi: Phedon Papamichael Jr.; Penyunting: Don Zimmerman; Produksi: Blue Wolf, Bungalow 78 Productions, Faller/Minoff; Distributor: Universal Pictures; Rilis: 25 Desember 1998; Durasi: 115 menit.
Memanfaatkan kelengahan suster jaga, seorang mahasiswa kedokteran yang belum menjadi dokter menyelinap masuk di kamar perawatan berisi anak-anak, yang sedang dirawat intensif. Hanya dokter ahli boleh masuk di ruangan bercat serba putih itu. Ia masuk untuk menciptakan lelucon. Untuk menghibur orang-orang sakit. Ruangan terbatas tempatnya menyelinap merupakan bangsal khusus penderita kanker otak. Ya, anak-anak yang dijaga ketat itu adalah penderita kanker otak. Di situ ia memanfaatkan alat-alat kedokteran seadanya sebagai perkakas humornya.
Ia menggunakan pispot kencing sebagai sepatu raksasa. Mengubah fungsi pompa karet menjadi hidung a la badut. Atau, menggunakan pakaian putih dokter memeragakan kostum badut yang melorot. Ulah konyolnya itu mengubah suasana sunyi senyap menjadi penuh canda tawa. Ruangan berisi anak-anak sakit itu seakan-akan sedang berada pada acara sirkus badut. Seolah-olah mereka sedang berada pada sebuah pesta ulang tahun di sebuah taman bermain. Untuk beberapa saat mereka bergembira melupakan penderitaan penyakitnya. Mahasiswa kedokteran yang menjadi badut itu memang agak lain. Di balik tingkah lucu, walaupun peluangnya kecil, terbersit keyakinan kesehatan dapat diraih melalui pikiran dan jiwa bahagia. Dengan begitu tubuh dapat merilis dan memicu hormon kebahagiaan (endorfin, serotonin, dopamin) yang dapat meredakan stres, memperkuat sistem imun, dan membuat jantung menjadi lebih stabil. Dengan kebahagiaan tidak sedikit penyakit hilang dengan sendirinya. Bahkan dapat sembuh akibat respons tubuh yang positif. Kisah jenaka sang badut di atas dapat Anda saksikan melalui peran Robin Williams dalam Patch Adams (1998). Aktor sekaligus komedian ini pandai menghidupkan sosok Hunter “Patch” Adams, mahasiswa kedokteran yang memiliki semangat dan empati yang besar kepada pasien. Tingkah lucu Adams di atas merupakan salah satu episode saat ia mengawali karirnya sebagai mahasiswa kedokteran di Medical College of Virginia—sekarang VCU School of Medicine. Narasi utama Patch Adams adalah refleksi kritis kepada pendekatan dunia kedokteran yang sering memberlakukan pasien sebagai objek semata. Tanpa disadari, relasi dokter-pasien yang hanya setingkat subjek-objek melahirkan cara penanganan media yang dingin, imparsial, dan impersonal. Kehilangan dimensi kemanusiaan berupa empati, kasih sayang, dan intensionalitas membuat rumah sakit menyerupai bangsal penjara. Patch Adams secara implisit juga mengungkap bagaimana relasi pendidikan selama ini kerap bekerja tanpa memberikan ruang diskursif bagi dosen dan mahasiswa, yang masing-masing tersandera dengan arogansi dan ketakutan. Apabila mengamati kenyataan sekarang, mahasiswa kiwari bagai hidup katak dalam tempurung, yang ketakutan melompat dari tempat tinggalnya selama ini, yang ternyata hanyalah tempurung kelapa. Langit, matahari, bintang, atau segala hal yang berada di luar tempurung bukanlah ruang kemungkinan yang menantang untuk dielaborasi karena ketakutan melangkah, bertanya, dan mencoba-coba. Sementara dosen, pihak yang tidak bisa juga diremehkan perannya, seringkali mengedepankan arogansi, kecurigaan, dan membabi buta memberikan perlakuan kepada proses belajar mengajar yang otoriter. Di film ini, Adams sering bertingkah lucu; selera humor yang tidak kompatibel dengan dunia medis yang dikenal serius dan rigid. Humor bukan sembarang humor, tapi merupakan ice breaker, yang memberikan efek retakan dan dingin bagi pemikiran yang masygul menerima perubahan. Tingkah humornya kerap membuat petinggi kampus ”kebakaran jenggot”. Adams sebagai mahasiswa sekolah kedokteran, memiliki filosofi berbeda mengenai kedokteran dan tata cara menangani pasien. Ia jenius tapi juga memiliki semangat kemanusiaan yang tinggi. Film Patch Adams kisah nyata dari orang bernama sama dengan judul filmnya. Di kehidupan nyata, pendekatan kesehatan Adams banyak mengubah kebiasaan kedokteran menangani dan merawat pasien. Tahun 1971 Patch Adam bersama teman-temannya mendirikan Gesundheit! Insitute, yakni rumah sakit komunitas gratis bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Klinik kesehatan ini kemudian hari berkembang menjadi rumah sakit yang mengedepankan prinsip kesehatan individu tidak dapat dipartisi keluar dari komunitas, keluarga, dan dunia, yang merupakan satu kesatuan holistik untuk proses penyembuhan pasien. Yang unik, selain dokter dan aktivitis kemanusiaan, Patch Adams adalah seorang komedian. Setiap tahun ia mengorganisir sukarelawan berkeliling dunia berpakaian badut membawa humor bagi anak-anak yatim, orang miskin, dan kelompok marginal lainnya. Scene fenomenal dari Patch Adams tiada lain saat Adams mengikuti prosesi pengukuhan sebagai sarjana kedokteran. Dalam acara sakral itu, setelah menerima ijazah kelulusan, sambil membungkuk membelakangi para guru besar dan hadirin undangan, Adams menjulurkan pantat telanjangnya dari balik jubah kebesaran wisudanya. Suatu tindakan satiris yang mungkin jauh hari sudah Adams siapkan!